
NINOS Education & Development baru saja menyelesaikan Training of Trainer (ToT) Klub Bermain Literasi (KBL) untuk Program KREASI. Selama lima hari, 27 sampai 31 Juli 2026, Fasilitator Daerah bersama Training Coordinator dan Provincial Officer dari 4 provinsi dan 8 kabupaten berkumpul di Hotel Royale Kuningan, Jakarta, untuk dilatih memfasilitasi KBL, sebuah program percepatan literasi bagi anak kelas 3 dan 4 SD yang tertinggal dalam kemampuan membaca. Di hari keempat, seluruh peserta turun langsung ke dua sekolah dasar di Cipinang, Jakarta Timur, untuk microteaching bersama anak sungguhan.
NINOS merancang seluruh fondasi teknis pelatihan ini, mulai dari kurikulum 27 sesi KBL untuk anak untuk digunakan Fasilitator Klub di sekolah, modul ToT untuk Fasilitator Daerah, panduan pendampingan sejawat, hingga panduan instrumen asesmen. Kami ingin berbagi mengapa pekerjaan ini penting, bagaimana kami merancangnya, dan apa yang membuatnya berjalan di lapangan.
Tentang Program KREASI
KREASI, atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia, adalah program pendidikan nasional yang didanai Global Partnership for Education (GPE), dikembangkan bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kementerian Agama, serta dikelola oleh Save the Children Indonesia. Program ini menjangkau ratusan satuan pendidikan di 8 kabupaten pada 4 provinsi, dengan tujuan memperkuat kurikulum, praktik pembelajaran, kepemimpinan sekolah, dan sistem perlindungan anak sejak jenjang PAUD hingga SD. Di lapangan, KREASI dijalankan lewat konsorsium 7 mitra pelaksana lokal yang memastikan program benar benar menjangkau konteks tiap daerah, bukan sekadar diturunkan seragam dari pusat.
Klub Bermain Literasi adalah salah satu intervensi inti KREASI, yang secara khusus menyasar anak yang tertinggal dalam literasi dasar lewat pendekatan Teaching at the Right Level. Anak dikelompokkan berdasarkan kemampuan membaca sesungguhnya, bukan usia atau kelas, dan belajar lewat kegiatan yang terasa seperti bermain namun terstruktur dan bertarget.
KBL sendiri adalah adaptasi Indonesia dari Catch Up Clubs, model flagship Save the Children International yang lahir sebagai respons terhadap krisis belajar pasca pandemi dan sudah diterapkan di berbagai negara. Prinsip dasarnya sama di mana pun diterapkan, yaitu percepatan literasi lewat pendekatan bermain terstruktur, namun setiap negara mengadaptasi konten dan bahasanya agar cocok dengan konteks lokal. Untuk Indonesia, adaptasi itu berarti kurikulum, cerita, dan kosakata yang dibangun dari nol agar relevan dengan anak di 8 kabupaten dampingan KREASI, bukan sekadar terjemahan dari modul global.
Merancang Pelatihan yang Benar-Benar Melekat

Tantangan terbesar dalam pelatihan fasilitator bukan menyampaikan materi, tapi memastikan materi itu benar benar bisa dipraktikkan dengan tepat di lapangan, oleh orang yang levelnya beragam, di kabupaten yang kondisinya jauh berbeda satu sama lain. Untuk ToT ini, seluruh 18 topik pelatihan dibangun di atas kerangka empat tahap: peserta mengalami dulu, baru memaknai, lalu berlatih, dan menutup dengan refleksi tindak lanjut. Setiap topik yang membahas kegiatan anak selalu disertai demo langsung, karena KBL adalah program berbasis bermain, dan fasilitator daerah perlu merasakan sendiri sebagai anak sebelum mereka melatih orang lain memfasilitasinya.

Puncaknya ada di hari keempat, ketika seluruh peserta memfasilitasi sesi KBL nyata bersama anak di dua SD di Cipinang. Bukan simulasi di ruang kelas pelatihan, tapi praktik sungguhan dengan segala ketidakpastian yang menyertainya: anak yang malu, anak yang cepat bosan, anak yang butuh pendekatan berbeda dari yang dilatihkan. Master trainer mengamati langsung dan memberi umpan balik konstruktif sesudahnya, sebelum peserta kembali ke ruang pelatihan untuk sesi pembelajaran sejawat dan menyusun rencana aksi 13 minggu ke depan di kabupaten masing masing.
Kenapa Ini Penting di Luar Konteks KREASI
Pola yang dipakai di ToT ini, yaitu kurikulum yang berjenjang dan konsisten, modul pelatihan yang menjaga fidelitas konten sambil tetap memberi ruang penyesuaian teknis, serta praktik lapangan yang nyata bukan simulasi, adalah pola yang bisa diterapkan di program pembelajaran fondasional mana pun. Baik itu literasi, numerasi, atau penguatan kapasitas guru secara umum.
Tim ToT NINOS
NINOS adalah konsultan kurikulum dan pengembangan pelatihan yang berkonsentrasi di bidang pembelajaran fondasional, literasi, numerasi, dan penguatan kapasitas fasilitator berjenjang. Kami percaya pelatihan yang baik bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi membantu fasilitator benar benar mengubah cara mereka bekerja di ruang kelas.
Tertarik Bekerja Sama?
Jika organisasi Anda sedang membangun atau memperkuat program capacity building di bidang pembelajaran fondasional, literasi, numerasi, atau pelatihan fasilitator berjenjang, kami terbuka untuk berdiskusi.
📧 ninosindonesiafoundation@gmail.com | 🌐 ninosfoundation.org | 📍 Duren Sawit, Jakarta, Indonesia
#NinosEducation #NinosFoundation #EducationConsultant #KREASI #KlubBermainLiterasi #FoundationalLearning