You are currently viewing Membangun Kepemimpinan Sekolah Berbasis Data: Dari Desain Modul hingga Uji Lapangan

Membangun Kepemimpinan Sekolah Berbasis Data: Dari Desain Modul hingga Uji Lapangan

Di banyak sekolah, data tersedia—nilai asesmen, rapor pendidikan, kehadiran siswa, hasil supervisi guru—namun tidak selalu menjadi dasar pengambilan keputusan. Program berjalan, rapat dilakukan, tetapi arah perbaikan belum sepenuhnya ditopang oleh bukti.

Pada Desember 2025, NINOS Education & Development (NINOS Foundation) dipercaya oleh Wahana Visi Indonesia, dengan dukungan Tanoto Foundation, untuk mengembangkan paket pelatihan Kepemimpinan Sekolah Berbasis Data. Mandat ini bukan sekadar menyusun materi, tetapi membangun perangkat pembelajaran yang mampu membantu kepala sekolah, guru senior, dan operator sekolah menggunakan data secara lebih sistematis untuk meningkatkan literasi–numerasi dasar.

Sejak awal, pendekatan yang digunakan adalah andragogi, dengan rujukan siklus belajar dari pengalaman (Kolb): mengalami, merefleksikan, memahami konsep, lalu mencoba. Prinsip ini penting karena peserta adalah pemimpin sekolah—pembelajar dewasa yang membutuhkan contoh nyata dan langkah praktis, bukan teori yang abstrak.

Desember: Menulis dan Menguji

Tahap penulisan modul dimulai pada awal Desember. Tim NINOS menyusun rancangan enam sesi pelatihan selama dua hari (total 16 JP), dengan struktur bertahap:

Hari pertama membangun fondasi:

  • Memahami apa itu literasi data dan bagaimana membedakan data umum dengan data yang siap ditindaklanjuti.
  • Mengidentifikasi gejala dan dugaan akar masalah berbasis angka nyata sekolah.
  • Menyampaikan data secara ringkas dan berdampak melalui pendekatan sederhana seperti satu pesan utama, dua angka kunci, dan ajakan tindakan.

Hari kedua berfokus pada praktik kepemimpinan:

  • Membangun kolaborasi penggunaan data antar-aktor sekolah.
  • Mengubah temuan data menjadi rumusan masalah, tujuan SMART, dan rencana aksi 3 bulan.
  • Menyusun sistem monitoring sederhana yang rutin dan bermanfaat.

Draft awal tidak hanya memuat materi, tetapi juga alur fasilitasi, instruksi kerja kelompok, serta perangkat evaluasi. Setelah melalui review bersama tim proyek, modul masuk ke tahap penting: logistical test pada akhir Desember.

Uji coba ini dilakukan menyerupai pelatihan sesungguhnya selama dua hari penuh. Fokusnya sederhana namun krusial:

  • Apakah alokasi waktu realistis?
  • Apakah peserta memahami instruksi tanpa penjelasan tambahan?
  • Apakah lembar kerja membantu proses berpikir, atau justru membebani?

Melalui observasi sesi, umpan balik peserta, dan analisis pre–post test, tim mengidentifikasi beberapa perbaikan penting. Misalnya, penajaman konsep perlu dibuat lebih variatif agar peserta tidak terlalu lama duduk dan menulis. Beberapa lembar kerja disederhanakan agar lebih berkesinambungan dan tidak terasa berulang. Contoh-contoh diperjelas agar lebih dekat dengan konteks sekolah dasar.

Revisi dilakukan segera setelah uji coba, dengan prinsip menjaga substansi tetap kuat tetapi pengalaman belajar lebih hidup.

Januari: Training of Facilitators dan Penguatan Mutu

Pada Januari 2026, modul yang telah direvisi memasuki fase Training of Facilitators (ToF) bersama tim proyek Wahana Visi Indonesia dan tim teknis donor.

ToF ini menjadi ruang untuk menyamakan standar fasilitasi. Fokusnya bukan hanya memahami isi modul, tetapi menguasai cara memandu diskusi berbasis data. Misalnya:

  • Bagaimana menjaga rapat data tetap fokus pada angka dan bukti, bukan opini.
  • Bagaimana membantu peserta memilih satu isu prioritas yang realistis.
  • Bagaimana memastikan setiap diskusi berujung pada keputusan kecil yang dapat ditindaklanjuti.

Masukan dari ToF kembali digunakan untuk memperjelas instruksi, memperhalus transisi antar sesi, dan menstabilkan durasi kegiatan.

Februari: Rolling dan Penguatan Konteks

Memasuki Februari 2026, paket pelatihan mulai digulirkan secara bertahap. Pelaksanaan dilakukan di berbagai konteks, termasuk penguatan di wilayah seperti Nias (Sumatra Utara) serta uji keterbacaan dan penyelarasan bahasa di Pandeglang (Jawa Barat).

Pada tahap ini, fokusnya adalah memastikan modul tetap relevan ketika digunakan di konteks berbeda. Bahasa disederhanakan bila perlu, contoh disesuaikan dengan kondisi setempat, dan ritme fasilitasi diadaptasi tanpa mengubah tujuan utama sesi.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa modul bukan dokumen statis, melainkan perangkat belajar yang terus disempurnakan berdasarkan pengalaman nyata di lapangan.

Produk Akhir: Paket Pelatihan yang Terintegrasi

Hasil akhir proyek ini adalah paket pelatihan yang lengkap dan siap digunakan, mencakup:

  • Modul peserta untuk kepala sekolah, guru senior, dan operator sekolah.
  • Slide deck seluruh sesi.
  • Lembar kerja terintegrasi dan bertahap.
  • Perangkat Training of Facilitators.
  • Tools logistical test dan panduan briefing sebelum uji coba.
  • Pre–post test satu set (awal dan akhir pelatihan) yang dipetakan terhadap tujuan sesi dan tingkat berpikir (Taksonomi Bloom).

Pre–post test dirancang tidak sekadar mengukur ingatan, tetapi juga kemampuan menganalisis, menerapkan, dan mengevaluasi situasi berbasis data. Dengan demikian, hasil pelatihan dapat dibaca lebih bermakna, bukan hanya sebagai angka.

Mengapa Proses Ini Penting?

Pengembangan modul kepemimpinan sekolah berbasis data tidak cukup hanya dengan menyusun materi yang “baik”. Ia perlu melalui siklus yang utuh: desain, review, uji lapangan, revisi, pelatihan fasilitator, dan penguatan konteks.

Melalui proyek ini, NINOS menunjukkan kapasitasnya dalam mengintegrasikan riset, praktik pelatihan, dan penguatan mutu secara sistematis. Kepercayaan dari Wahana Visi Indonesia dengan dukungan Tanoto Foundation untuk proyek ini memperkuat posisi NINOS sebagai mitra dalam pengembangan kepemimpinan sekolah yang berorientasi pada bukti dan berdampak pada peningkatan literasi–numerasi dasar.

Pada akhirnya, kepemimpinan sekolah berbasis data bukan tentang angka semata. Ia tentang keberanian membaca kenyataan, memilih prioritas yang tepat, dan menggerakkan langkah kecil yang konsisten agar setiap anak mendapatkan pengalaman belajar yang lebih baik.

Author: Mega Indrawati

Leave a Reply

two × 5 =