You are currently viewing Anak Usia Dini dan Perubahan Iklim

Anak Usia Dini dan Perubahan Iklim

Risalah Kebijakan

Krisis iklim adalah krisis hak-hak anak (UNICEF, 2021) karena anak-anak terkena dampak yang tidak proporsional, dimulai sejak dalam kandungan. Ketika perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan bencana meningkat, stabilitas dan prediktabilitas yang diperlukan dalam lingkungan pengasuhan anak usia dini untuk  yang penting bagi perkembangan mereka dapat terganggu, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan ketika otak berkembang paling pesat. Asia Pasifik, sebagai wilayah yang menampung 60% populasi generasi muda dunia, sedang menghadapi krisis. Publikasi UNICEF pada tahun 2021 mengenai Indeks Risiko Iklim Anak menyoroti bahwa sekitar 1 miliar anak (hampir setengah dari anak-anak di dunia) tinggal di negara-negara yang tergolong berisiko sangat tinggi terhadap dampak perubahan iklim – banyak dari mereka berasal dari wilayah tersebut. Perubahan iklim dan guncangan lingkungan hidup merupakan tantangan kompleks yang tidak bisa lagi dianggap hanya sekedar masalah lingkungan hidup karena mempunyai implikasi sosial dan ekonomi terhadap pembangunan manusia, termasuk kemiskinan, kesenjangan, perdamaian dan keamanan. Untuk mengatasi permasalahan ini diperlukan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, terutama pada tataran sistem dalam hal kebijakan, pembiayaan, dan programan. Pengembangan Anak Usia Dini berpotensi menjadi landasan adaptasi iklim, ketahanan, dan pembangunan berkelanjutan mengingat sifat lintas sektoralnya yang memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan populasi generasi termuda kita.

Permasalahan

Dampak negatif perubahan iklim dan degradasi lingkungan akan paling terasa bagi anak-anak dari kelompok masyarakat yang paling kurang beruntung dan rentan yang menghadapi berbagai kerentanan yang saling terkait. (dengan tumpang tindih dalam usia, status ekonomi, jenis kelamin, kemampuan fisik, dan lokasi).

Yang paling mengejutkan, stress pada anak usia dini karena gangguan berkepanjangan terhadap layanan penting dan kesulitan yang dihadapi dapat menyebabkan gangguan fisik dan kognitif, masalah perilaku, dan kesehatan mental yang buruk, jika tidak ditangani (Shonkoff & Garner, 2012). Oleh karena itu, mengingat adanya saling ketergantungan dengan orang tua dan pengasuhnya, anak-anak sejak dalam kandungan hingga usia 8 tahun, jauh lebih rentan terhadap bahaya iklim dan lingkungan dibandingkan dengan orang dewasa (University of Wollongong, 2022)

Mulai dari dalam kandungan, kemungkinan bayi lahir prematur atau  lahir dengan berat badan rendah akan lebih tinggi dialami oleh ibu hamil yang terpapar polusi udara tingkat tinggi (UNICEF, 2017). Paparan panas yang ekstrem pada ibu hamil juga dikaitkan dengan masalah kesehatan pada janin dan bayi baru lahir.

Secara fisiologis jika dibandingkan dengan orang dewasa, anak usia dini membutuhkan lebih banyak makanan dan air per unit berat badannya seiring dengan perkembangan otak, paru-paru, dan tubuhnya yang pesat. Hal ini membuat anak-anak kurang mampu bertahan hidup dalam kondisi iklim ekstrem dan dehidrasi; mereka lebih rentan terhadap polusi udara, bahan kimia beracun, perubahan suhu, dan penyakit seperti demam berdarah dan diare (UNICEF, 2021). Secara psikologis, anak kecil mungkin akan merasakan dampak yang lebih parah ketika menyaksikan dan mengalami bencana.

Leave a Reply

seven + one =